Makalah Ekonomi Kerakyatan
Latar belakang
Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan
ekonomi rakyat.Dimana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan
ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan (popular) yang
dengan secara swadaya mengelola sumberdaya ekonomi apa saja yang dapat
diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai Usaha Kecil
dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan,
kerajinan, makanan, dsb, yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya dan keluarganya tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat
lainnya.
Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi
kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan
masyarakat local dalam mempertahan kehidupannnya. Ekonomi kerakyatan ini
dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat local
dalam mengelola lingkungan dan tanah
mereka secara turun temurun. Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait
dengan ekonomi sub sisten antara lain pertanian tradisional seperti
perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan lainnnya kegiatan disekitar
lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan industri rumahan. Kesemua
kegiatan ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar tradisional dan berbasis
masyarakat, artinya hanya ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan
hidup
masyarakatnya sendiri. Kegiatan ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya
sendiri dan masyarakatnya, sehingga tidak mengekploitasi sumber daya alam
yang ada. Gagasan ekonomi kerakyatan dikembangkan sebagai upaya alternatif
dari para ahli ekonomi Indonesia untuk menjawab kegagalan yang dialami oleh
negara negara berkembang termasuk Indonesia dalam menerapkan teori
pertumbuhan. Orientasi utama dari ekonomi kerakyatan adalah rakyat banyak,
bukan sebagian atau sekelompok kecil orang. Pandangan tersebut lahir,
menurut Baswir (2006), jauh sebelum Indonesia merdeka. Bung Hatta melalui
artikelnya yang berjudul “Ekonomi Rakyat” yang diterbitkan dalam harian
Daulat Rakyat (20 November 1933), mengekspresikan kegundahannya melihat
kondisi ekonomi rakyat Indonesia di bawah penindasan pemerintah Hindia
Belanda. Dapat dikatakan bahwa “kegundahan” hati Bung Hatta atas kondisi
ekonomi rakyat Indonesia yang waktu itu masih berada di bawah penjajahan
Belanda, merupakan cikal bakal dari lahirnya, katakanlah demikian, konsep
ekonomi kerakyatan, Untuk jelasnya akan di paparkan dalam pembahasan.
Sebagaimana tercantum dalam Pembukaan Undang Undang Dasar 1945, Negara
Indonesia didirikan dengan tujuan untuk melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tanah tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan
umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban
dunia. Pengejawantahan dari amanat Undang Undang Dasar 1945 tersebut,
khususnya yang berkaitan dengan frase “memajukan kesejahteraan umum,” pada
hakikatnya merupakan tugas semua elemen bangsa, yakni rakyat di segala
lapisan di bawah arahan pemerintah. Tidak terlalu salah jika, mengacu pada
definisi tujuan pendirian negara yang mulia tersebut, kesejahteraan dan
kemakmuran bangsa Indonesia harus dicapai dengan menerapkan prinsip “dari,
oleh, dan untuk rakyat.”
Konsep tersebut telah jauh-jauh hari dipikirkan oleh Bung Hatta (wakil
presiden pertama Negara Kesatuan Republik Indonesia). Beliau, bahkan jauh
sebelum Schumacher (yang terkenal dengan bukunya SmallisBeautiful, dan
Amartya Sen) pemenang Nobel 1998 Bidang Ekonomi, berpendapat bahwa ekonomi
kerakyatan merupakan bentuk perekonomian yang paling tepat bagi bangsa
Indonesia (Nugroho, 1997). Orientasi utama dari ekonomi kerakyatan adalah
rakyat banyak, bukan sebagian atau sekelompok kecil orang. Pandangan
tersebut lahir, menurut Baswir (2006), jauh sebelum Indonesia merdeka. Bung
Hatta melalui artikelnya yang berjudul “Ekonomi Rakyat” yang diterbitkan
dalam harian Daulat Rakyat (20 November 1933), mengekspresikan
kegundahannya melihat kondisi ekonomi rakyat Indonesia di bawah penindasan
pemerintah Hindia Belanda. Dapat dikatakan bahwa “kegundahan” hati Bung
Hatta atas kondisi ekonomi rakyat Indonesia yang waktu itu masih berada di
bawah penjajahan Belanda, merupakan cikal bakal dari lahirnya, katakanlah
demikian, konsep ekonomi kerakyatan.
Rumusan Masalah
1. Apa itu Ekonomi Kerakyatan ?
2. Bagaimana Ciri-ciri dari Ekonomi Kerakyatan ?
3. Apa saja peran yang dimiliki Ekonomi Kerakyatan ?
4. Apa tujuan dari Ekonomi Kerakyatan ?
5. Apa saja Kelebihan dan Kekurangan yang ada pada Ekonomi Kerakyatan ?
6. Bagaimana Sejarah Ekonomi Kerakyatan di Indonesia ?
7. Mengapa Ekonomi Kerakyatan perlu dijadikan Strategi Pembangunan Ekonomi
Indonesia ?
8. Bagaimana Ekonomi Kerakyatan kedepannya ?
9. Bagaimana Upaya mewujudkan ekonomi kerakyata ?
Tujuan
1. Mengetahui pengertian dari ekonomi kerakyatan
2. Mengetahui ciri-ciri dari ekonomi kerakyatan
3. Memahami peran yang dimiliki ekonomi kerakyatan
4. Memahami tujuan dari ekonomi kerakyatan
5. Mengetahui kelebihan dan kekurangan yang dimiliki ekonomi kerakyatan
6. Mempelajari dan mengetahui sejarah dari system ekonomi kerakyatan di
indonesia
7. Mengetahui bahwa ekonomi kerakyatan dapat dijadikan strategi pembangunan
ekonomi di Indonesia
8. Memahami,mempelajari manfaat dari ekonomi kerakyatan untuk kedepanya,
dan bagaimana sebaiknya ekonomi kerakyataan di masa yang akan datang.
9. Mengetahui upaya yang dilakukan untuk ekonomi kerakyatan.
BAB II
PEMBAHASAN
Pengertian ekonomi kerakyatan
Ekonomi kerakyatan adalah sistem perekonomian yang di mana pelaksanaan
kegiatan, pengawasannya, dan hasil dari kegiatan ekonomi dapat dinikmati
oleh seluruh masyarakat. Atau definisi ekonomi kerakyatan yang lainnya
adalah suatu sistem perekonomian yang dibangun pada kekuatan ekonomi
rakyat, ekonomi kerakyatan yaitu kegiatan dari ekonomi yang dapat
memberikan kesempatan yang luas untuk masyarakat dalam berpartisipasi
sehingga perekonomian dapat terlaksana dan berkembang secara baik.
Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait dengan ekonomi sub sisten antara
lain pertanian tradisional seperti perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan
lainnnya kegiatan disekitar lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan
industri rumahan. Kesemua kegiatan ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar
tradisional dan berbasis masyarakat, artinya hanya ditujukan untuk
menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya sendiri. Kegiatan
ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya sendiri dan masyarakatnya,
sehingga tidak mengekploitasi sumber daya alam yang ada.
Ciri Ekonomi Kerakyatan
1. Peranan vital negara (pemerintah).
Sebagaimana ditegaskan oleh Pasal 33 ayat 2 dan 3 UUD 1945, negara
memainkan peranan yang sangat penting dalam sistem ekonomi kerakyatan.
Peranan negara tidak hanya terbatas sebagai pengatur jalannya roda
perekonomian. Melalui pendirian Badan-badan Usaha Milik Negara (BUMN),
yaitu untuk menyelenggarakan cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak, negara dapat terlibat
secara langsung dalam penyelenggaraan berbagai kegiatan ekonomi tersebut.
Tujuannya adalah untuk menjamin agar kemakmuran masyarakat senantiasa lebih
diutamakan daripada kemakmuran orang seorang, dan agar tampuk produksi
tidak jatuh ke tangan orang seorang, yang memungkinkan ditindasnya rakyat
banyak oleh segelintir orang yang berkuasa.
2. Efisiensi ekonomi berdasar atas keadilan, partisipasi, dan
keberlanjutan.
Tidak benar jika dikatakan bahwa sistem ekonomi kerakyatan cenderung
mengabaikan efisiensi dan bersifat anti pasar. Efisiensi dalam sistem
ekonomi kerakyatan tidak hanya dipahami dalam perspektif jangka pendek dan
berdimensi keuangan, melainkan dipahami secara komprehensif dalam arti
memperhatikan baik aspek kualitatif dan kuantitatif, keuangan dan
non-keuangan, maupun aspek kelestarian lingkungan. Politik ekonomi
kerakyatan memang tidak didasarkan atas pemerataan, pertumbuhan, dan
stabilitas, melainkan atas keadilan, partisipasi, dan keberlanjutan.
3. Mekanisme alokasi melalui perencanaan pemerintah, mekanisme pasar, dan
kerjasama (kooperasi).
Mekanisme alokasi dalam sistem ekonomi kerakyatan, kecuali untuk
cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang menguasai hajat
hidup orang banyak, tetap di dasarkan atas mekanisme pasar. Tetapi
mekanisme pasar bukan satu-satunya. Selain melalui mekanisme pasar, alokasi
juga didorong untuk diselenggaran melalui mekanisme usaha bersama
(koperasi). Mekanisme pasar dan koperasi dapat diibaratkan seperti dua sisi
dari sekeping mata uang yang sama dalam mekanisme alokasi sistem ekonomi
kerakyatan.
4. Pemerataan penguasaan faktor produksi
Sejalan dengan amanat penjelasan pasal 33 UUD 1945, penyelenggaraan pasar
dan koperasi dalam sistem ekonomi kerakyatan harus dilakukan dengan terus
menerus melakukan penataan kelembagaan, yaitu dengan cara memeratakan
penguasaan modal atau faktor-faktor produksi kepada segenap lapisan anggota
masyarakat. Proses sistematis untuk mendemokratisasikan penguasaan
faktor-faktor produksi atau peningkatan kedaulatan ekonomi rakyat inilah
yang menjadi substansi sistem ekonomi kerakyatan.
5. Koperasi sebagai sokoguru perekonomian
Berdasrkan Pasal 33 UUD 1945, keikutsertaan anggota masyarakat dalam
memiliki faktor-faktor produksi itulah antara lain yang menyebabkan
dinyatakannya koperasi sebagai bangun perusahaan yang sesuai dengan sistem
ekonomi kerakyatan. Sebagaimana diketahui, perbedaan koperasi dari
perusahaan perseroan terletak pada diterapkannya prinsip keterbukaan bagi
semua pihak yang mempunyai kepentingan dalam lapangan usaha yang dijalankan
oleh koperasi untuk turut menjadi anggota koperasi.
6. Pola hubungan produksi kemitraan, bukan buruh-majikan
Pada koperasi memang terdapat perbedaan mendasar yang membedakannya dengan
bentuk-bentuk perusahaan yang lain. Di antaranya adalah pada dihilangkannya
pemilahan buruh-majikan, yaitu diikutsertakannya buruh sebagai pemilik
perusahaan atau anggota koperasi. Sebagaimana ditegaskan oleh Bung Hatta,
“Pada koperasi tak ada majikan dan tak ada buruh, semuanya pekerja yang
bekerjasama untuk menyelenggarakan keperluan bersama”. Karakter utama
ekonomi kerakyatan pada dasarnya terletak pada dihilangkannya watak
individualistis dan kapitalistis dari wajah perekonomian Indonesia. Secara
mikro hal itu antara lain berarti diikutsertakannya pelanggan dan buruh
sebagai anggota koperasi atau pemilik perusahaan. Sedangkan secara makro
hal itu berarti ditegakkannya kedaulatan ekonomi rakyat dan diletakkannya
kemakmuran masyarakat di atas kemakmuran orang seorang.
7. Kepemilikan saham oleh pekerja
Dengan diangkatnya kerakyatan sebagai prinsip dasar sistem perekonomian
Indonesia, prinsip itu dengan sendirinya tidak hanya memiliki kedudukan
penting dalam menentukan corak perekonomian yang harus diselenggarakan oleh
negara pada tingkat makro. Ia juga memiliki kedudukan yang sangat penting
dalam menentukan corak perusahaan yang harus dikembangkan pada tingkat
mikro. Perusahaan hendaknya dikembangkan sebagai bangun usaha yang dimiliki
dan dikelola secara kolektif (kooperatif) melalui penerapan pola-pola
kepemilikan saham oleh pekerja. Penegakan kedaulatan ekonomi rakyat dan
pengutamaan kemakmuran masyarakat di atas kemakmuran orang seorang hanya
dapat dilakukan dengan menerapkan prinsip tersebut.
Ciri dari sistem ekonomi kerakyatan
' alt="*" v:shapes="_x0000_i1025"> Yang menguasai kebutuhan hidup
masyarakat adalah negara atau pemerintah negara tersbut. Misalnya seperti:
bahan bakar minyak, air dan sumber daya alam yang lainnya.
alt="*" v:shapes="_x0000_i1026"> Peran negara di ekonomi ini sangatlah
penting akan tetapi tidak dominan, dan begitu juga perana dari pihak swasta
yang posisinya memang penting akan tetapi tidak mendominasi juga. Sehingga
tidak mungkin terjadi kondisi sistem ekonomi liberal ataupun sistem ekonomi
komando. Kedua pihak tersebut yaitu pemerintah dan juga pihak swasta hidup
berdampingan secara damai dan saling men-support satu sama lain.
Di dalam perekonomian ini masyarakat adalah bagian yang sangat penting,
karena kegiatan produksi yang dilakukan, diawasi dan dipimpin oleh anggota
masyarakat.
Buruh maupun modal tidak mendominasi perekonomian sebab ekonomi ini
didasari atas asas kekeluargaan.
Peran Negara dalam Ekonomi
Ekonomi Kerakyatan
v Menyusun perekonomian sebagai usaha bersama berdasar atas azas
kekeluargaan, mengembangkan koperasi (Pasal 33 ayat 1).
v Menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi negara dan yang
menguasai hajat hidup orang banyak mengembangkan BUMN (Pasal 33 ayat 2).
v Menguasai dan memastikan pemanfaatan bumi, air, dan segala kekayaan yang
terkandung di dalamnya bagi sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 33
ayat 3).
v Mengelola anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat memberlakukan pajak
progresif dan memberikan subsidi.
v Menjaga stabilitas moneter.
v Memastikan setiap warga negara memperoleh haknya untuk mendapatkan
pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2).
v Memelihara fakir miskin dan anak terlantar (Pasal 34).
Tujuan dan Sasaran Sistem Ekonomi Kerakyatan
Tujuan utama penyelenggaraan sistem ekonomi kerakyatan adalah untuk
mewujudkan keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia melalui
peningkatan kemampuan masyarakat dalam mengendalikan jalannya roda
perekonomian. Bila tujuan utama ekonomi kerakyatan itu dijabarkan lebih
lanjut, maka sasaran pokok ekonomi kerakyatan meliputi lima hal berikut:
· Tersedianya peluang kerja dan penghidupan yang layak bagi seluruh anggota
masyarakat.
· Terselenggaranya sistem jaminan sosial bagi anggota masyarakat yang
membutuhkan, terutama fakir miskin dan anak-anak terlantar.
· Terdistribusikannya kepemilikan modal material secara relatif merata di
antara anggota masyarakat.
· Terselenggaranya pendidikan nasional secara cuma-cuma bagi setiap anggota
masyarakat.
· Terjaminnya kemerdekaan setiap anggota masyarakat untuk mendirikan dan
menjadi anggota serikat-serikat ekonomi.
Kelebihan dari sistem ekonomi kerakyatan
o Rakyat yang kurang mampu bisa mendapatkan perlakuan hukum yang sama atau
secara adil dalam masalah perekonomian.
o Dapat memberikan perhatian yang lebih pada rakyat kecil melalui berbagai
macam program operasional yang nyata.
o Sistem ekonomi ini dapat mewujudkan kedaulatan rakyat.
o Dapat merangsang kegiatan ekonomi yang lebih produktif di tingkat rakyat
sekaligus dapat melahirkan jiwa kewirausahaan.
o Transaksi antara produksi, distribusi dan konsumsi sangat baik.
o Hubungan antara produksi, distribusi dan juga konsumsi akan saling
membutuhkan dan sangat baik.
Kelemahan dari sistem ekonomi kerakyatan
o Dalam ekonomi ini akan terjadi praktek membagi-bagi uang kepada rakyat,
peraktek ini sangat tidak menguntungkan bagi pihak manapun, termasuk rakyat
itu sendiri.
o Aksi membagi-bagi uang ini secara tidak sadar dapat menyebabkan usaha
mikro atau kecil dan menengah serta koperasi yang selama ini tidak berdaya
dapat bersaing dalam suatu mekanisme pasar, bias menjadi sangat bergantung
pada aksi tersebut.
o Masih kurangnya pengetahuan rakyat mengenai Investasi, akibatnya dapat
menyebabkan kemiskinan terlalu lama atau perputaran roda yang lambat.
o Kurangnya penerapan dari manajemen.
o Tidak adanya dukungan yang optimal dari pemerintah, meskipun peran
pemerintah sangat penting tapi tidak dominan.
o Harus di awasi, jika tidak diawasi dengan baik akan banyak koruptor.
Sejarah sistem ekonomi di Indonesia
Seperti halnya Indonesia,
sistem ekonomi
yang dianut oleh bangsa Indonesia akan berbeda dengan sistem ekonomi yang
dianut oleh Amerika Serikat ataupun negara-negara lainnya.Pada awalnya
Indonesia menganut
sistem ekonomi liberal
, di mana seluruh kegiatan ekonomi diserahkan kepada masyarakat. Akan
tetapi karena ada pengaruh komunisme yang disebarkan oleh Partai Komunis
Indonesia, maka sistem ekonomi di Indonesia berubah dari sistem ekonomi
liberal menjadi
sistem ekonomi sosialis
. Pada masa Orde Baru, sistem ekonomi yang dianut oleh bangsa Indonesia
diubah kembali menjadi
sistem demokrasi ekonomi.
Sistem ini bertahan hingga masa Reformasi. Setelah masa Reformasi,
pemerintah melaksanakan sistem ekonomi yang berlandaskan ekonomi
kerakyatan. Sistem inilah yang masih berlaku di Indonesia.
Alasan Ekonomi Kerakyatan Perlu Dijadikan Strategi Pembangunan Ekonomi
Ada 4 Alasan mengapa ekonomi kerakyatan perlu dijadikan strategi
pembangunan ekonomi Indonesia (Mardi Yatmo Hutomo). Keempat alasan,
dimaksud adalah:
1. Karakteristik Indonesia
Pengalaman keberhasilan Korea Selatan, Taiwan, Singapura, Brazil, meniru
konsep pembangunan ekonomi yang dilakukan oleh negara-negara Eropa Barat
dan Amerika, ternyata bagi negara-negara berkembang lainnya memberikan
hasil yang berbeda. Pengalaman Indonesia yang mengandalkan dana pinjaman
luar negeri untuk membiayai pembangunan, mengandalkan investasi dari luar
negeri, memperkuat industri substitusi ekspor, selama dua sampai tiga
dasawarsa memang berhasil mendorong pertumbuhan output nasional yang cukup
tinggi dan memberikan lapangan kerja cukup luas bagi rakyat. Indonesia
pernah dijuluki sebagai salah satu dari delapan negara di Asia sebagai
Asian Miracle, karena tingkat pertumbuhan ekonominya yang cukup mantap
selama tiga dasawarsa, tetapi ternyata sangat rentan dengan terjadinya
supply shock. Krisis mata uang Bath di Thailand, ternyata dengan cepat
membawa Indonesia dalam krisis ekonomi yang serius dan dalam waktu yang
amat singkat, ekonomi Indonesia runtuh.
Fakta ini menunjukkan kepada kepada kita, bahwa konsep dan strategi
pembangunan ekonomi yang berhasil diterapkan di suatu negara, belum tentu
akan berhasil bila diterapkan di negara lain. Teori pertumbuhan
Harrod-Domar – Rostow – David Romer – Solow, dibangun dari struktur
masyarakat pelaku ekonomi yang berbeda dengan struktur ekonomi masyarakat
Indonesia. Setiap teori selalu dibangun dengan asumsi-asumsi tertentu, yang
tidak semua negara memiliki syarat-syarat yang diasumsikan. Itulah
sebabnya, untuk membangun ekonomi Indonesia yang kuat, stabil dan
berkeadilan, tidak dapat menggunakan teori generik yang ada. Kita harus
merumuskan konsep pembangunan ekonomi sendiri yang cocok dengan tuntutan
politik rakyat, tuntutan konstitusi kita, dan cocok dengan kondisi obyektif
dan situasi subyektif kita.
2. Tuntutan Konstitusi.
Walaupun rumusan konstitusi kita yang menyangkut tata ekonomi yang
seharusnya dibangun, belum cukup jelas sehingga tidak mudah untuk
dijabarkan bahkan dapat diinterpretasikan bermacam-macam (semacam ekonomi
bandul jam, tergantung siapa keyakinan ideologi pengusanya); tetapi dari
analisis historis sebenarnya makna atau ruhnya cukup jelas. Ruh tata
ekonomi usaha bersama yang berasas kekeluargaan adalah tata ekonomi yang
memberikan kesempatan kepada seluruh rakyat untuk berpartisiasi sebagai
pelaku ekonomi. Tata ekonomi yang seharusnya dibangun adalah bukan tata
ekonomi yang monopoli atau monopsoni atau oligopoli. Tata ekonomi yang
dituntut konstitusi adalah tata ekonomi yang memberi peluang kepada seluruh
rakyat atau warga negara untuk memiliki aset dalam ekonomi nasional. Tata
ekonomi nasional adalah tata ekonomi yang membedakan secara tegas barang
dan jasa mana yang harus diproduksi oleh pemerintah dan barang dan jasa
mana yang harus diproduksi oleh sektor private. Mengenai bentuk kelembagaan
ekonomi, walaupun dalam penjelasan pasal 33 dinterpretasikan sebagai bentuk
koperasi, tetapi tentu harus menyesuaikan dengan perkembangan masyarakat
dan lingkungan.
3. Fakta Empirik
Dari krisis moneter yang berlanjut ke krisis ekonomi dan kejatuhan nilai
tukar rupiah terhadap valas, ternyata tidak sampai melumpuhkan perekonomian
nasional. Bahwa akibat krisis ekonomi, harga kebutuhan pokok melonjak,
inflasi hampir tidak dapat dikendalikan, ekspor menurun (khususnya ekspor
produk manufaktur), impor barang modal menurun, produksi barang manufaktur
menurun, pengangguran meningkat, adalah benar. Tetapi itu semua ternyata
tidak berdampak serius terhadap perekonomian rakyat penghasilannya bukan
dari menjual tenaga kerja.
Usaha-usaha yang digeluti atau dimiliki oleh rakyat banyak yang produknya
tidak menggunakan bahan impor, hampir tidak mengalami goncangan yang
berarti. Fakta yang lain, ketika investasi nol persen, bahkan ternjadi
penyusutan kapital, ternyata ekonomi Indonesia mampu tumbuh 3,4 persen pada
tahun 1999. Ini semua membuktikan bahwa ekonomi Indonesia akan kokoh kalau
pelaku ekonomi dilakukan oleh sebanyak-banyaknya warga negara.
4. Kegagalan Pembangunan Ekonomi.
Pembangunan ekonomi yang telah kita laksanakan selama ini, dilihat dari
aspek makro ekonomi memang menunjukkan hasil-hasil yang cukup baik.
Pertumbuhan ekonomi masih di atas 6 persen pertahun. Pendapatan perkapitan
meningkat cukup tajam, volume dan nilai eksport non migas juga meningkat.
Tetapi pada aspek lain, kita juga harus mengakui, bahwa jumlah penduduk
miskin jumlahnya tetap banyak, kesenjangan pendapatan antar golongan
penduduk dan atar daerah makin lebar, dan pemindahan pemilikan aset ekonomi
dari rakyat ke sekelompok kecil warga negara juga meningkat. Terjadi
paradok ekonomi.
Walaupun berbagai program penanggulangan kemiskinan telah kita
dilaksanakan, program pemerataan telah kita jalankan, tetapi ternyata
semuanya tidak mampu memecahkan masalah-masalah dimaksud. Oleh sebab itu,
yang kita butuhkan saat ini sebenarnya bukan hanya program penanggulangan
kemiskinan, tetapi merumuskan kembali strategi pembangunan ekonomi yang
cocok untuk Indonesia. Kalau strategi pembangunan ekonomi yang kita tempuh
benar, maka sebenarnya semua program pembangunan adalah sekaligus menjadi
program penanggulangan kemiskinan.
Sistem Ekonomi Kerakyatan Kedepannya
Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah Sistem Ekonomi Nasional Indonesia yang
berasas kekeluargaan, berkedaulatan rakyat, bermoral Pancasila, dan
menunjukkan pemihakan sungguh-sungguh pada ekonomi rakyat. Pemihakan dan
perlindungan ditujukan pada ekonomi rakyat yang sejak zaman penjajahan
sampai 57 tahun Indonesia merdeka selalu terpinggirkan. Syarat mutlak
berjalannya sistem ekonomi nasional yang berkeadilan sosial adalah
berdaulat di bidang politik, mandiri di bidang ekonomi, dan berkepribadian
di bidang budaya.
Upaya-Upaya Mewujudkan Ekonomi Kerakyatan
1. Alokasi Anggaran untuk Panjaminan Kredit untuk Usaha Rakyat
Yang dibutuhkan oleh usaha rakyat sebenarnya bukan subsidi bunga dan bukan
dana block grant, tetapi akses untuk mendapatkan pinjaman ke lembaga
keuangan. Dengan demikian, intervensi yang diperlukan dari pemerintah
adalah adanya penjaminan kredit untuk UKM.
Mengapa perlu penjaminan, sebab bank adalah risk aversion sehingga tidak
berminat memberikan kredit kepada UKM yang memang memiliki default risk
tinggi. Tidak efektifnya kebijakan credit rationing dengan mewajibkan bank
umum menyalurkan 25 persen kredit kepada UKM dengan subsidi bunga dari
pemerintah, adalah argumentasi yang cukup kuat tentang perlunya penjaminan
pemerintah untuk kredit UKM.
Strategi ini, selain tidak akan membebani anggaran belanja pemerintah yang
terlalu besar, juga bagian dari pembelajaran bagi UKM untuk terbiasa
berhubungan dengan lembaga keuangan formal dan pembelajaran bagi UKM untuk
mandiri dan efisien.
2. Kebijakan Perpajakan
Untuk mendorong UKM bergabung pada koperasi (baik di sektor pertanian,
peternakan, perikanan, perdagangan, industri), maka UKM yang bergabung
diberi keringanan pajak. Demikian pula kepada perusahaan apapun yang
bersedia menjual sahamnya kepada pegawainya, diberi keringanan pajak.
3. Kebijakan Pertanahan
Lahan dalam perekonomian merupakan faktor modal yang penting. Meningkatnya
jumlah petani landless dalam 3 dekade terakhir, dan hilangnya spesifikasi
pemilikan komunal atas sumber daya hutan, merupakan ancaman serius dalam
membangun ekonomi kerakyatan. Oleh sebab itu, perlindungan bagi masyarakat
adat atas tanah ulayat, perlindungan petani melalui sertifikasi tanah,
perlu dilakukan. Kebijakan pemerintah yang memberi kemudahan bagi
masyarakat adat untuk memperoleh hak pemilikan atas tanah ulayat, akan
membantu penguatan ekonomi rakyat.
Perusahaan Hutan Rakyat (bukan HPH tetapi mirip HPH hanya pemilikan
sahamnya adalah oleh masyarakat adat setempat), akan dapat dibangun bila
pemerintah mengakui hak pemilikan hutan ulayat. Demikian juga Perusahaan
Perkebunan Rakyat (bukan Perkebunan Inti Rakyat, tetapi mirip PIR hanya
pemilikan sahamnya oleh masyarakat adat setempat), akan dapat dibangun bila
pemerintah mengakui hak pemilikan hutan ulayat.
4. Kebijakan Upah
Dari model ekonomi income masyarakat, salah satu sumber pendapatan
masyarakat adalah dari upah dan gaji. Rendah tingginya upah dan gaji yang
diterima, tergantung dari tingkat upah perjam/bulan, lama jam kerja, dan
jumlah anggota keluarga yang bekerja. Tinggi rendahnya tingkat upah dan
gaji ditentukan oleh kualitas tenaga kerja. Kualitas tenaga kerja bukan
hanya ditentukan oleh tingat pendidikan, tetapi juga sikap mental (etos
kerja, profesionalitas, dan kedisiplinan). Lama jam kerja dan jumlah
anggota keluarga yang bekerja ditentukan oleh ketersediaan lapangan kerja.
Kebijakan penetapan batas Upah Minimum Regional (UMR), seperti yang selama
ini digunakan pemerintah dalam melindungi kaum pekerja, sebenarnya tidak
memecahkan permasalahan ketenagakerjaan. Intervensi pemerintah secara
langsung dalam menentukan upah dan gaji pekerja, justru menimbulkan
permasalahan baru yang lebih serius, seperti pengangguran dan permasalahan
sektor informal. Perbaikan gaji dan upah, seharusnya diserahkan melalui
mekanisme pasar tenaga kerja.
Oleh sebab itu, dalam rangka penguatan ekonomi kerakyatan dari sisi
ketenagakerjaan, harus ada kebijakan baik disisi demand maupun di sisi
supply. Di sisi supply, intervensi yang dibutuhkan dari pemerintah adalah
peningkatan kualitas tenaga kerja. Sedang di sisi demand, intervensi yang
diperlukan dari pemerintah adalah perluasan lapangan kerja. Perluasan
lapangan kerja dapat dilakukan melalui instrumen kebijakan fiskal dan
moneter, penumbuh kembangkan usaha-usaha ekonomi produktif, dan
industrialisasi di perdesaan. Untuk meningkatkan upah pekerja, jalan yang
aman untuk ditempuh adalah melalui stimulus penciptaan lapangan kerja.
Meluasnya lapangan kerja akan menggeser kurve permintaan, sehingga tingkat
upah akan meningkat. Stimulan untuk menciptakan lapangan kerja dapat
ditempuh melalui peningkatan investasi. Peningkatan investasi tidak harus
menurunkan suku bunga bank, tetapi memperluas akses unit produksi rakyat
untuk memperoleh pinjaman di lembaga keuangan bank.
5. Pertanian
Pengadaan sarana produksi pertanian dalam jumlah sedikit akan meningkatkan
harga perunit sarana produksi, dan akibatnya biaya produksi per unit produk
menjadi tinggi. Dengan produksi kecil dan keuntungan kecil, akan menjadi
kendala untuk terjadinya akumulasi kapital di setiap unit produksi.
Akibatnya hampir tidak pernah terjadi investasi baru di sektor ini, baik
dalam bentuk pengadaan alat-alat mekanisasi pertanian, maupun perluasan
lahan.
Dengan skala usaha kecil-kecil dengan jumlah jutaan dan tidak ada
keterkaitan antara satu dengan yang lain, menyebabkan posisi tawar mereka
baik di pasar input maupun di pasar output, sangat lemah. Di pasar input
mereka berhadapan dengan monopoli, sedang di pasar output mereka menghadapi
monopsoni. Oleh sebab itu, jalan keluar yang relatif baik adalah melalui
merger antarunit usaha pertanian atau coorporate farming. Melalui
coorporate farming (CF), produksi pertanian dilakukan melalui unit-unit
perusahaan pertanian yang saham seluruhnya dimiliki oleh petani yang
bersangkutan. Model CF tidak saja diterapkan untuk pertanian tanaman
pangan, tetapi juga untuk perkebunan.
6. Perdagangan
Struktur usaha di sektor perdagangan, seperti kita ketahui bersama, terdiri
dari unsur distributor, retail besar, dan retail kecil. Perusahaan
distributor pada umumnya dimiliki atau merupakan anak perusahaan dari
produsen atau dimiliki oleh perusahaan terbatas yang pemilik bukan produsen
tetapi sebagian sahamnya dimiliki oleh produsen. Pemilikan saham di
distributor dan retail besar, pada umumnya hanya oleh sebagian kecil orang.
Dalam rangka penguatan ekonomi kerayatan, struktur pemilikan saham di
distributor dan retail besar, perlu dilakukan peninjauan kembali. Intinya
adalah, sebanyak-banyaknya warga negara harus memiliki saham di sektor
perdagangan. Bentuknya adalah, retail-retail kecil harus membentuk
koperasi. Melalui koperasi ini, retail-retail kecil memiliki saham di
retail besar dan di peerusahaan distributor.
7. Kehutanan dan Pertambangan
Selama ini konsep bahwa “bumi air dan segala isinya dikuasai negara dan
digunakan sebesar-besarnya untuk kemakmuran rakyat”, dipahami kekayaan
alam, khususnya kekayaan hutan dan bahan galian dikuasai negara, lalu oleh
pemerintah sebagai wakil negara mengkonsesikan kepada pihak swasta
(misalnya dalam bentuk HPH, kontrak karya), kemudian penerimaan bagi hasil
dan pajak atas eksploitasi sumber daya alam tersebut dibagi dua, sebagian
diberikan kepada pemerintah daerah dan sebagian lagi untuk pemerintah
pusat.
Bagian daerah tersebut selanjutnya untuk membiayai pembangunan di daerahnya
dan bagi pusat dibagikan kepada daerah bukan penghasil dan atau digunakan
pusat untuk untuk membiayai pembangunan nasional. Oleh sebab itu, tidak
mengherankan kalau penduduk dimana sumber daya alam itu berada,
kadang-kadang tidak merasakan manfaat atas eksploitasi sumber daya alam
yang bersangkutan. Bahkan penduduk lokal harus menanggung biaya
eksternalitas disekonomi yang ditimbulkan dari kegiatan eksploitasi
dimaksud.
Pengakuan atas pemilikan komunal terhadap sumber daya alam yang selanjutnya
melibatkan masyarakat lokal dalam eksploitasi, merupakan pilihan kebijakan
yang cukup baik bila ditinjau dari aspek politik, aspek ekonomi, dan aspek
keberlanjutan. Melalui pengakuan hak kepemilikan komunal, masyarakat
bersama pemerintah secara bersama-sama dapat:
a) Mengkonsesikan sepenuhnya kepada pihak investor dengan pemilikan saham
bersama antara pemerintah, masyaakat lokal, dan investor,
b) Melakukan kerja sama dengan pihak investor dengan pola Kerja Sama
Operasional (KSO), atau
c) Bersama pemerintah membentuk perusahaan yang akan mengeksploitasi sumber
daya alam yang bersangkutan.
SISTEM EKONOMI KERAKYATAN
Sistem Ekonomi Kerakyatan adalah istilah yang relatif baru, yang
menggantikan istilah ekonomi rakyat yang konotasinya dianggap negatif dan
bersifat diskriminatif.
Pakar-pakar ekonomi muda (arus utama) merasa muak (fedup) dengan
istilah-istilah sistem ekonomi Pancasila, karena :
1. Istilah-istilah ekonomi ditunggangi pesan-pesan politik dari pemerintah
atau pejabat-pejabat pemerintah, tidak saja kata rakyat atau ekonomi
kerakyatan dicurigai bahkan kata Pancasila dianggap terlalu berat untuk
dipakai sebagai nama sistem ekonomi yang cocok atau tepat bagi Indonesia.
2. Pemerintah Orde Baru telah secara sepihak memonopoli pengertian dan
memanfaatkannya sebagai pembenaran (justification) atas berbagai
kebijaksanaan atau politik ekonomi liberal yang berpihak pada ekonomi
konglomerasi.
Demontrasi mahasiswa (rakyat) yang menuntut turunnya Soeharto dari
pemerintahan pada tahun 1997 dan meminta agar dilaksanakan reformasi.
Reformasi yang dituntut adalah, antara lain, reformasi di bidang politik
dan reformasi di bidang ekonomi. Reformasi di bidang politik adalah
kebebasan bersuara, berpolitik, atau secara singkatnya adalah kebebasan
demokrasi, yang selam pemerintahan Soeharto (1965-1997) sangat dikekang
atau dipasung. Reformasi di bidang ekonomi dikatakan bahwa di bawah
presiden Soeharto pemerintah terlalu memihak kepada perusahaan besar, pada
hal terbukti dari krisis yang lalu (1997) bahwa usaha kecil dan menengah
atau usaha rakyat terbukti tahan banting.
Yang mengalami kehancuran pada krisis 1997 adalah usaha besar, PHK juga
dilakukan oleh perusahaan besar, perusahaan multinasional. Kredit diarahkan
terutama untuk kepentingan perusahaan besar. Dominasi asing dalam
perekonomian, seperti misalnya peranan Bank Dunia, IMF dan lembaga asing
lainnya, dianggap sebagai satu hal yang berlebihan dan rakyat menginginkan
agar perekonomian lebih bersifat berdiri di atas kaki sendiri. Oleh karena
itu hutang kepada IMF dan Bank Dunia dibayar lunas. Namun hutang luar
negeri tidak seluruhnya lunas dan dalam waktu setahun, dan ironisnya adalah
bahwa sementara hutang luar negeri berkurang ternyata hutang dalam negeri
meningkat dengan tajam. Beberapa hal berikut ini merupakan kebijakan
pemerintah selama dalam sistem ekonomi kerakyatan :
1. Peranan IGGI dikurangi, semula diganti dengan CGI (consultative Group on
Indonesia) sehingga badan tersebut hanya bersifat konsultasi dalam menyusun
kebijaksanaan ekonomi.
2. Investasi asing dengan UUPMA dan investasi dalam negeri dengan UUPMDN,
yang memberikan prioritas pada pengusaha besar tidak banyak mendapat
sorotan, tidak dihapuskan, namun berjalan seperti semula.
3. Tampak adanya usaha swastanisasi perusahaan Negara namun belum selesai
dan usaha swastanisasi ini merupakan isu internasional dan bukanlah
disebabkan oleh karena sistem ekonomi kerakyatan.
4. Dari tinjauan di atas dan pengamatan yang mendalam, sistem ekonomi
kerakyatan ini masih mempunyai ciri sangat kental sebagai sistem ekonomi
pasar.
1.
Ekonomi Kerakyatan sebagai Sistem Ekonomi
Ekonomi kerakyatan adalah sistem ekonomi yang berbasis pada kekuatan
ekonomi rakyat. Di mana ekonomi rakyat sendiri adalah sebagai kegiatan
ekonomi atau usaha yang dilakukan oleh rakyat kebanyakan (populer) yang
dengan secara swadaya mengelola sumber daya ekonomi apa saja yang dapat
diusahakan dan dikuasainya, yang selanjutnya disebut sebagai Usaha Kecil
dan Menegah (UKM) terutama meliputi sektor pertanian, peternakan,
kerajinan, makanan, dsb., yang ditujukan terutama untuk memenuhi kebutuhan
dasarnya dan keluarganya tanpa harus mengorbankan kepentingan masyarakat
lainnya.
Secara ringkas Konvensi ILO169 tahun 1989 memberi definisi ekonomi
kerakyatan adalah ekonomi tradisional yang menjadi basis kehidupan
masyarakat lokal dalam mempertahankan kehidupannya. Ekonomi kerakyatan ini
dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat lokal
dalam mengelola lingkungan dan tanah mereka secara turun-temurun. Aktivitas
ekonomi kerakyatan ini terkait dengan ekonomi subsistem antara lain
pertanian tradisional seperti perburuan, perkebunan, mencari ikan, dan
lainnya kegiatan disekitar lingkungan alamnya serta kerajinan tangan dan
industri rumahan. Kesemua kegiatan ekonomi tersebut dilakukan dengan pasar
tradisional dan berbasis masyarakat, artinya hanya ditujukan untuk
menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup masyarakatnya sendiri. Kegiatan
ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya sendiri dan masyarakatnya,
sehingga tidak mengeploitasi sumber daya alam yang ada.
Sri-EdiSwasono dosen sistem ekonomi di Fakultas Ekonomi Universitas
Indonesia yang berani dan tegas berbicara tentang Sistem Ekonomi Indonesia
yang seharusnya secara mantap disebut Sistem Ekonomi Pancasila, dalam
pidato pengukuhan Guru Besar Juli 1988 dengan judul Demokrasi Ekonomi:
Komitmen dan pembangunan Indonesia Sri-Edi mengatakan :
Sistem ekonomi Indonesia yang berdasarkan atas Demokrasi Ekonomi itu
akan lebih cepat terwujud jika dalam setiap penyusunan kebijaksanaan
dikaitkan lebih langsung dengan butir-butir demokrasi ekonomi. Dengan
demikian perencanaan pembangunan sekaligus perencanaan sistem, dan
pembangunan ekonomi sekaligus merupakan pembangunan sistemnya.
Widjojo Nitisastro, pemimpin teknokrat ekonomi pemerintah Orde Baru,
menaruh perhatian besar pada nasib ekonomi rakyat, untuk membangunnya
dikembangkan sistem ekonomi yang mengacu pada Pancasila dan UUD 1945.
…..pembangunan ekonomi rakyat harus diberikan prioritas utama di antara
soal-soal nasional……Landasanidiil dalam membina Sistem Ekonomi
Indonesia dan yang sementara harus tercermin dalam kebijaksanaan
ekonomi ialah Pancasila dan UUD 1945. Hakekat dari landasanidiil ini
adalah pembinaan sistem ekonomi terpimpin berdasarkan pancasila.
Pada sidang istimewa MPR November 1998 dihasilkan Sejumlah ketetapan
reformatif yang mengamanatkan pemerintah Reformasi Pembangunan untuk
mengadakan berbagai koreksi fundamental dan total terhadap tatanan-tatanan
ekonomi Orde Baru.
Ketetapan ini berjudul Politik Ekonomi Dalam Rangka Demokrasi Ekonomi,berarti ada perintah
untuk menyusun Politik Ekonomi Baru yang berbeda, karena politik ekonomi
lama yang diterapkan pemerintah Orde Baru tidak membangun dan mengembangkan
ekonomi rakyat. Sebaliknya politik ekonomi dalam bentuk deregulasi bersifat
liberal (kebablasan) yang lebih menguntungkan sejumlah kecil perusahaan
swasta konglomerat. Inilah pola pembangunan ekonomi konglomerasi.
Tentang liberalisasi yang kebablasan ini Frans Seda selalu menunjuk pada
kelalaian kita untuk melaksanakan ajaran-ajaran Bung Hatta.
“
yang lebih prihatin lagi, bahwa sementara tantangan-tantangan secara
fundamental itu terjadi pemerintah sepertinya tidak siap, dan datang
dengan konsep-konsep pragmatis dan piecemeal seperti kebijakan
deregulasi, debirokrasi,join grup ini, join grup sana, tanpa ada suatu
visi yang konsepsional komprehensif dan strategis. Dalam hal ini kita
dapat berguru pada Bung Hatta”.
TAP No. XVI/1998 menegaskan perlunya penerapan sistem ekonomi kerakyatan
yang berpihak pada upaya-upaya pemberdayaan ekonomi rakyat.
2.
Ekonomi Kerakyatan dan Globalisasi
Dalam kancah persaingan global yang makin kompetitif maka peningkatan daya
saing ekonomi nasional mutlak dibutuhkan dan tak mungkin ditawar – tawar
lagi untuk menyelamatkan negara. Yang terasa aneh adalah ungkapan yang
muncul dalam sidang APEC di Bogor November 1994 yaitu “siap tidak siap,
suka tidak suka”, kita harus ikut globalisasi karena kita sudah berada di
dalamnya. Ungkapan ini bisa diartikan adanya rasa percaya diri dan
optimisme Indonesia bakal mampu bersaing dalam kancah perekonomian global,
namun yang juga dapat dibantah adalah bahwa Indonesia “dipaksa”
melaksanakan tindakan-tindakan ekonomi yang mungkin tidak kita sukai karena
jelas-jelas merugikan ekonomi nasional atau melemahkan ketahanan nasional.
Sudah diperingatkan oleh Hadi Soesastro bahwa globalisasi adalah berbahaya,
mahal, dan resikonya besar bagi Negara-negara berkembang seperti Indonesia.
Jika memang demikian, mengapa kita harus melaksanakannya juga?
Diterapkannya sistem ekonomi kerakyatan yaitu yang demokratis dan
benar-benar sesuai dengan sistem nilai bangsa Indonesia ( sistem ekonomi
atau aturan main yang kita buat sendiri ) tentunya memberikan peluang bahwa
aturan main itu lebih sesuai dan lebih tepat bagi bangsa Indonesia dalam
upaya mewujudkan keadilan sosial bagi rakyat Indonesia.
Kita merasa pesimis menghadapi kekuatan-kekuatan ekonomi raksasa dari luar,
sehingga untuk berpikir beda saja sudah dianggap tidak wajar.
“Mengapa dalam suasana globalisasi kita justru bertumpu pada ekonomi rakyat
yang sudah jelas tertinggal dan rendah efisiensinya?”.
Adalah amat keliru menjadikan persaingan bebas secara global sebagai
tujuan. Pembangunan nasional adalah mewujudkan ketahanan nasional yang kuat
dan tangguh yang sudah terbukti tidak dapat diandalkan pada sejumlah kecil
pengusaha konglomerat, tetapi justru harus mengandalkan kekuatan dan
ketahanan ekonomi rakyat. Jika dalam krisis ekonomi yang kini masih
berlangsung ekonomi rakyat terbukti tahan banting dan banyak yang justru
dapat lebih berkembang, maka jika kita berhasil memberdayakannya, ketahanan
ekonomi nasional akan lebih kuat dan lebih tangguh lagi dimasa depan.
3.
Ekonomi Kelembagaan dan Ekonomi Kerakyatan
Dengan teori-teori ekonomi yang konvensional yang bertumpu pada paradigma
persaingan bebas liberal terbukti bangsa Indonesia tidak mampu dan tidak
berdaya mengembangkan politik ekonomi yang menguntungkan seluruh rakyat
Indonesia. Ada teori ekonomi yang berbeda yang lebih mengandalkan
upaya-upaya manusia untuk bekerja sama (cooperation) dan bukan persaingan
(competition). Bung Hatta yang pakar ekonomi dan sekaligus perumus
pasal-pasal kesejahteraan sosial dalam UUD 1945 menganjurkan koperasi
sebagai bangun/ bentuk perusahaan yang sesuai dengan bentuk usaha bersama
berdasar atas asas kekeluargaan.
Douglas C. North, penerima hadiah Nobel Ekonomi tahun 1993 yang Guru besar
Ekonomi Kelembagaan generasi baru, meneruskan tokoh-tokoh ekonomi
kelembagaan sebelumnya yaitu J.R. Commons, ThornsteinVeblen, dan
GunnarMyrdal dari Swedia .
Tekanan dari ilmu ekonomi kelembagaan yaitu :
1. Manusia menciptakan dan menggunakan lembaga-lembaga tertentu untuk
memecahkan berbagai konflik ekonomi di dalam masyarakat.
2. Mencari kemungkinan-kemungkinan tindakan bersama (collectiveaction) dan
kerjasama antar manusia (human cooperation) untuk mengatasi konflik-konflik
sosial-ekonomi.
Ekonomi Ortodoks :
Percaya bahwa persaingan bebas akan menghabiskan “harmoni” dan efisiensi.
Terjadinya krismon dan krisis ekonomi di Indonesia tidak diduga siapapun
hanya menunjukkan kurangnya perhatian ekonom pada peranan lembaga-lembaga
ekonomi, sosial dan budaya masyarakat.
Perhatian para ekonom lebih tertuju pada indikator-indikator ekonomi makro
kuantitatif (dapat diukur dengan angka-angka) seperti :
1. Angka-angka inflasi.
2. Pertumbuhan ekonomi
3. Cadangan devisa yang dikenal sebagai fundamental ekonomi.
Budaya suatu bangsa merupakan faktor utama pembentuk lembaga yaitu
aturan-aturan yang melarang atau membolehkan suatu tindakan dilakukan
seseorang. Douglas North menegaskan tiga komponen lembaga, yaitu :
1. Batasan-batasan informal (informal constraints),
2. Aturan-aturan formal (formal rules), dan
3. Paksaan pematuhan terhadap keduanya (enforcement of both).
Ekonomi Kelembagaan adalah :
Cabang ilmu ekonomi yang percaya adanya peran lembaga-lembaga dalam kinerja
ekonomi suatu masyarakat, karena batasan-batasan dan aturan-aturan yang
dibuat masyarakat yang bersangkutan dipatuhi atau dapat dipaksakan
pematuhannya.
Lembaga adalah : aturan main.
Organisasi adalah : pemain, yaitu kelompok-kelompok masyarakat dan
perorangan warga masyarakat yang terikat dalam kebersamaan untuk mencapai
tujuan bersama, seperti badan-badan politik, ekonomi, sosial dan pendidikan
4.
Peran Pemerintah dalam Ekonomi Kerakyatan
|
Ekonomi Kerakyatan
|
Kapitalisme
|
|
Negara Kesejahteraan
|
Ekonomi Neoliberal
|
|
1. 1. Menyusun perekonomian sebagai usaha bersama
berdasarkan atas azas kekeluargaan; mengembangkan koperasi
(Pasal 33 ayat 1)
2. 2. Menguasai cabang-cabang produksi yang penting bagi
negara dan yang menguasai hajat hidup orang banyak;
mengembangkan BUMN (Pasal 33 ayat 2).
3. 3. Menguasai dan memastikan pemanfaatan bumi, air, dan
segala kekayaan yang terkandung di dalamnya bagi
sebesar-besarnya kemakmuran rakyat (Pasal 33 ayat 3).
4. 4. Mengelola anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat;
memberlakukan pajak progresif dan memberikan subsidi.
5. 5. Menjaga stabilitas moneter.
6. 6. Memastikan setiap warga negara memperoleh haknya
untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak bagi
kemanusiaan (Pasal 27 ayat 2).
7. 7. Memelihara fakir miskin dan anak terlantar (Pasal
34).
|
1. 1. Mengintervensi pasar untuk menciptanya kondisi
kesempatan kerja penuh.
2. 2. Menyelenggarakan BUMN pada cabang-cabang produksi
yang tidak dapat diselenggarakan oleh perusahaan swasta
3. 3. Menjaga keseimbangan antara pertumbuhan ekonomi
dengan pemerataan pembangunan.
4. 4. Mengelola anggaran negara untuk kesejahteraan rakyat;
memberlakukan pajak progresif dan memberikan subsidi.
5. 5. Menjaga stabilitas moneter.
6. 6. Memastikan setiap warga negara memperoleh haknya
untuk mendapatkan pekerjaan dan penghidupan yang layak.
7. 7. Memelihara fakir miskin dan anak terlantar.
|
1. 1. Mengatur dan menjaga bekerjanya mekanisme pasar;
mencegah monopoli.
2. 2. Mengembangkan sektor swasta dan melakukan privatisasi
BUMN.
3. 3 Memacu laju pertumbuhan ekonomi, termasuk dengan
menciptakan lingkungan yang kondusif bagi masuknya
investasi asing.
4. 4. Melaksanakan kebijakan anggaran ketat, termasuk
menghapuskan subsidi.
5. 5. Menjaga stabilitas moneter.
6. 6. Melindungi pekerja perempuan, pekerja anak, dan bila
perlu menetapkan upah minimum.
7. 7. ---
|
Pemerintahan Indonesia, justru sampai saat ini masih sangat getol melakukan kapitalisme”murni” yang sudah ditinggalkan orang lain bahkan
pencetusnya sendiri yaitu negara Amerika padahal amanat Undang-undang Dasar
jelas mengarah kepada ekonomi kerakyatan. Usaha kecil dan menengah tidak
terkelola dengan baik. Sebagai contoh, pasar pemerintah, yang banyak diisi
oleh pedagang kecil dan menengah terpinggirkan oleh pasar modern dan
hipermarket. Ini bukanlah semata hasil persaingan yangfair. Ketika
pasar rakyat yang langsung di bawah binaan pemerintah tidak dikelola dengan
baik, kumuh, berdesakan, panas, becek, banyak copet, pungli dan adanya
pungutan-pungutan liar akibat dari adanyafreemanisme, tidak
terpenuhinya kebutuhan barang yang diinginkan oleh konsumen dan lain
sebagainya, yang mengakibatkan ekonomi biaya tinggi, bagaimana mungkin bisa
bersaing dengan hypermarket yang nyaman dan serba ada. Mengapa tidak
pemerintah memodernisasi pasar tradisional, menghilangkan pungli dan lain
sebagainya, sehingga kompetisi yang terjadi adalah kompetisi yang fair. Belum lagi bicara masalah modal UKM. Akses terhadap modal
dan pinjaman yang terbatas atau kalaupun ada, sangat sulit, melewati banyak
prosedur dan berbiaya tinggi. Keberpihakan kepada perusahaan besar semakin
kuat. Hal ini dapat dilihat dari indikasi keberpihakan pemerintah terhadap
sektor moneter seperti bank-bank konvensional dan peraturan persaingan
pasar yang kurang jelas dan tegas.
Harusnya, Peranan positif lembaga dalam membantu masyarakat meningkatkan
kesejahteraan, atau dalam hal koperasi mampu memperjuangkan kepentingan
ekonomi anggota-anggotanya, maka pemerintah atau Negara (thestate) yang
demokratis harus mampu berperanan memaksakan pematuhan peraturan-peraturan
yang bersifat melindungi warga atau sekedar meningkatkan kepastian hukum.
Berbagai organisasi bentukan pemerintah menurut Douglas North mungkin saja
efisien tetapi efisien dalam membuat suatu masyarakat tidak produktif.
Contoh: pemberian uang sogok (korupsi) kepada pejabat-pejabat/ instansi
pemerintah untuk mempercepat suatu urusan bisnis.
5.
Ekonomi Kerakyatan Mengisi Otonomi Daerah
TAP No. XVI/ 1998 tentang Politik Ekonomi.
TAP No. XV tentang Otonomi Daerah.
UU No. 22/1999 tentang pemerintahan daerah
UU No. 25/1999 tentang Perimbangan Keuangan antara Pemerintahan Pusat dan
Daerah.
Kedua UU yang akan efektif berlaku tahun 2000 ini akan berarti kenaikan
yang sangat besar dari dana-dana pembangunan daerah berupa bagian daerah
dari penerimaan PBB, bea perolehan hak atas tanah dan bangunan, dan
penerimaan daerah dari sumberdaya alam minyak, hutan dan perikanan,
sehingga daerah yang kaya akan sumberdaya alam tidak saja akan menguasai
lebih banyak untuk pembangunan daerah, tetapi juga akan mempunyai wewenang
jauh lebih besar dari sebelum reformasi untuk mengarahkan pemanfaatannya.
Dengan demikian penerapan sistem ekonomi kerakyatan akan mampu
mengembangkan program-program kongkrit bagi pemerintah daerah yang lebih
mandiri, dan lebih mampu mewujudkan keadilan dan pemerataan pembangunan
daerah.
6.
Teori Besar Ekonomi Kelembagaan
Adatiga teori penting yang selama ini menjadi pijakan para perencana
pembangunan maupun pengambil kebijakan yang mencoba mengadopsi pendekatan
ekonomi kelembagaan untuk mengupas persoalan-persoalan ekonomi. Ketiga
teori tersebut adalah:
1. Teori ekonomi biaya transaksi
Seperti diketahui, pandangan neoklasik menganggap pasar berjalan secara
sempurna tanpa biaya apapun karena pembeli (consumers) memiliki
informasi yang sempurna dan penjual (producers) saling
berkompetisi sehingga menghasilkan harga yang rendah. Tetapi dunia nyata
faktanya adalah sebaliknya, di mana informasi, kompetisi, sistem kontrak,
dan proses jual-beli bisa sangat asimetris. Inilah yang menimbulkan adanya
biaya transaksi, yang sekaligus bisa didefinisikan sebagai biaya-biaya
untuk melakukan proses negosiasi, pengukuran, dan pemaksaan pertukaran.
Singkatnya, teori biaya transaksi menggunakan transaksi sebagai basis unit
analisis, sedangkan teori neoklasik memakai produk sebagai dasar unit
analisis. Berikutnya, teori ekonomi kelembagaan juga diformulasikan oleh
teori Coase (CoaseTheorem) yang mengklarifikasi tentang biaya
transaksi dalam teori ekonomi neoklasik. Coase mendemonstrasikan bahwa
inefisiensi dalam ekonomi neoklasik bisa terjadi bukan cuma akibat adanya
struktur pasar yang tidak sempurna atau penjelasan standar lainnya,
melainkan karena adanya kehadiran secara implisit biaya transaksi. Dalam
kasus monopoli, misalnya, inefisiensi bukan hanya terjadi akibat struktur
pasar yang terkosentrasi, namun juga oleh sebab kesulitan pihak monopolis
menentukan jumlah pembeli dan harus menegosiasikan di antara mereka.
Sedangkan pada kasus eksternalitas, inefisiensi terjadi jika biaya sosial
produksi melebihi biaya privat produksi (eksternalitas negatif) sehingga
perusahaan tidak mampu memberikan kompensasi bagi tambahan biaya tersebut.
Sebenarnya untuk mendefinisikan biaya transaksi ini sangatlah pelik. Namun,
sebagai upaya untuk mengerjakan investigasi konsep tentang biaya transaksi
sangatlah berguna untuk mengenali bentuk dan struktur sebuah pertukaran/
transaksi (Furubotn dan Richter, 1991:8).
Sedangkan menurut, Furubotn dan Richter menunjukkan bahwa biaya transaksi
adalah ongkos untuk menggunakan pasar (markettransactioncosts) dan
biaya melakukan hak untuk memberikan pesanan di dalam perusahaan ( managerialtransactioncosts). Di samping itu, ada juga rangkaian
biaya yang diasosiasikan untuk menggerakkan dan menyesuaikan dengan
kerangka politik kelembagaan (politicaltransactioncosts). Untuk
masing-masing tiga jenis biaya transaksi tersebut bisa dibedakan menurut
dua tipe:
1. biaya transaksi "tetap" (fixedtransactioncosts), yaitu
investasi spesifik yang dibuat di dalam menyusun kesepakatan kelembagaan ( institusional arrangements).
2. biaya transaksi "variabel" (variabletransactioncosts), yakni
biaya yang tergantung pada jumlah dan volume transaksi. Pada poin ini,
sifat dari biaya transaksi sama dengan ongkos produksi, di mana keduanya
mengenal konsep biaya tetap dan biaya variabel. Cuma, dalam identifikasi
yang mendalam, tentu membedakan antara biaya tetap dan variabel dalam biaya
transaksi tidak semudah apabila membandingkannya dalam biaya produksi.
2. Teori hak kepemilikan (Property Rights)
Untuk memahami konsep dasar dari hak kepemilikan, langkah terbaik adalah
dengan mula-mula mengasumsikan bahwa seluruh kegiatan ekonomi mengambil
tempat dalam kerangka kelembagaan dasar dari negara liberal klasik ( classical liberal state). Asumsi itu menyebutkan bahwa hak
kepemilikan ditetapkan kepada individu menurut prinsip kepemilikan pribadi
(privateownership) dan bahwa sanksi atas hak kepemilikan dapat
dipindahkan (transferable) melalui izin menurut prinsip kebebasan
kontrak (freedom of contract). Melalui konsep dasar tersebut, hak
kepemilikan (right of ownership) atas suatu aset dapat dimengerti
sebagai hak untuk menggunakan (righttouse), untuk mengubah bentuk
dan isi hak kepemilikan (tochangeitsformandsubstance), dan untuk
memindahkan seluruh hak-hak atas aset (t o transfer allrightsintheasset), atau beberapa hak (somerights)
yang diinginkan. Dengan deskripsi ini, hak kepemilikan hampir selalu berupa
hak eksklusif (exclusiveright), tetapi kepemilikan bukan berarti
hak yang tanpa batas (unrestrictedright).
Sedangkan Bromley dan Cernea mendefinisikan hak kepemilikan sebagai hak
untuk mendapatkan aliran laba yang hanya aman (secure) bila
pihak-pihak yang lain respek dengan kondisi yang melindungi aliran laba
tersebut. Makna ini dengan cukup terang mendonorkan gambaran yang jelas,
bahwa sesungguhnya hak kepemilikan menyangkut penguasaan individu atas aset
(dalam pengertian yang luas bisa berupa ilmu pengetahuan dan keterampilan)
sehingga di dalam dirinya terdapat hak untuk menggunakan atau memindahkan
atas yang aset yang dikuasai/dimiliki.
Kepemilikan (property) di sini bisa berupa kepemilikan fisik
(obyek konsumen, tanah, peralatan-peralatan modal) dan kepemilikan yang
tidak terlihat (intangibleproperty), seperti ide, puisi, dan
formula/rumus kimia. Namun, barangkali di antara sekian banyak hak
kepemilikan yang ada, bentuk hak kepemilikan yang paling penting bagi teori
ekonomi adalah tenaga kerja dan alat-alat produksi ( means of production). Faktanya memang demikian, di mana
kebijakan-kebijakan hak kepemilikan terus diarahkan untuk menjamin
kepastian faktor produksi, seperti lahan, tenaga kerja, dan modal. Faktor
produksi tersebut mendapatkan prioritas untuk mendapatan kepastian hak
kepemilikannya, sebab bila tidak dilindungi dipastikan kegiatan produksi
(ekonomi) akan macet.
Dalam konteks kerangka kerja neoklasik, Tietenberg menerima premis yang
dikembangkan oleh aliran neoklasik dan menyarankan bahwa struktur yang
efisien dari hak kepemilikan dapat memproduksi alokasi sumberdaya yang
efisien pula.
Kemudian dia mengidentifikasi empat karakteristik dari hak kepemilikan yang
penting:
1. Universalitas: seluruh sumberdaya dimiliki secara privat dan seluruh
jatah (entitlement) dispesifikasi secara lengkap.
2. Eksklusivitas: seluruh keuntungan dan biaya diperluas sebagai hasil dari
kepemilikan dan pemanfaatan sumberdaya seharusnya jatuh ke pemilik, dan
hanya kepada pemilik, baik secara langsung maupun tidak langsung, melalui
penjualan atau yang lain.
3. Transferabilitas: seluruh hak kepemilikan seharusnya dapat
dipindahkan/ditransfer dari satu pemilik kepada pihak lain lewat pertukaran
sukarela.
4. Enforsibilitas: hak kepemilikan seharusnya dijamin dari praktek
keterpaksaan atau pelanggaran dari pihak lain.
Pada akhirnya, bila dipilah-pilah jenis-jenis hak kepemilikan yang eksis
dalam masyarakat, setidaknya terdapat tiga tipe yang penting, yakni hak
kepemilikan individu (privatepropertyright/ownership), hak
kepemilikan negara (statepropertyright/ownership), dan hak
kepemilikan komunal (communalpropertyright/ownership). Hak
kepemilikan individu/pribadi dimaksudkan bahwa setiap individu berhak untuk
menguasai dan memiliki aset spesifik yang diinginkan, di mana dengan
kepemilikan tersebut dia berhak untuk memperoleh keuntungan, entah dengan
cara diolah, dijual, atau dengan jalan lain. Sedangkan hak kepemilikan
negara diartikan bahwa aset spesifik hanya dibolehkan menjadi milik negara
sehingga individu/pribadi tidak diperkenankan untuk memilikinya. Sementara
itu, hak kepemilikan komunal tidak lain merupakan kepemilikan yang dipunyai
oleh kelompok yang telah terdefinisikan dengan baik ( well-definedgroup) dari orang-orang (people) yang
bergabung untuk menggenggam aset yang tidak bisa dipindahkan ( nontransferableasset). Di luar itu, memang masih ada beberapa
jenis hak kepemilikan lain, misalnya hak kepemilikan terbuka ( openaccesspropertyright), namun eksistensinya saat ini semakin
melemah seiring dengan intensitas modernisasi ekonomi.
3. Teori modal sosial
Muasal teori modal sosial pertama kali sesungguhnya dipicu oleh tulisan
Pierre Bourdieu yang dipublikasikan pada akhir tahun 1970-an. Judul tulisan
Bourdieu tersebut antara lain adalah Le Capital Social: Notes Provisoires,
yang diterbitkan dalam Actesde la Rechercheen Sciences Sociales (1980).
Namun, karena publikasi tersebut dilakukan dalam bahasa Prancis, membuat
tidak banyak ilmuwan sosial (khususnya sosiologi dan ekonomi) yang menaruh
perhatian. Setelah James S. Colemanmempublikasikan topik yang sama pada
tahun 1993, barulah para intelektual mengunduh tema tersebut sebagai salah
satu santapan penting yang mempertemukan antardisiplin ilmu. Akhirnya,
hingga saat ini, banyak pihak yang berkeyakinan bahwa Coleman merupakan
ilmuwan pertama yang memperkenalkan konsep modal sosial, seperti yang ia
tulis dalam jurnal American Journal of Sociology yang berjudul Social
Capital intheCreation of Human Capital (1988).
Lepas dari misi informasi tersebut, topik modal sosial memang sangat wajar
mendapatkan atensi yang besar dari para pemikir sosial karena cakupan dan
relevansinya yang kasatmata. Bahkan, Poldan menyebut modal sosial sangat
dekat untuk menjadi konsep gabungan bagi seluruh disiplin ilmu sosial ( closetobecoming a jointconcept for allsocialsciences). Berbeda
dengan dua modal lainnya yang lebih dulu populer dalam bidang ilmu sosial,
yakni modal ekonomi (economic/financialcapital) dan modal manusia
(human kapital), modal sosial baru eksis bila ia berinteraksi dengan
struktur sosial. Sifat ini jelas berbeda dengan dua modal sebelumnya, yakni
modal ekonomi dan manusia. Dengan modal ekonomi yang dimiliki
seseorang/perusahaan bisa melakukan kegiatan (ekonomi) tanpa harus
terpengaruh dengan struktur sosial, demikian pula halnya dengan modal
manusia. Hal inilah yang menyebabkan Colemanmendefinisikan modal sosial
berdasarkan fungsinya. Menurutnya, modal sosial bukanlah entitas tunggal,
tetapi entitas majemuk yang mengandung dua elemen:
1. modal sosial mencakup beberapa aspek dari struktur sosial.
2. modal sosial memfasilitasi tindakan tertentu dari pelaku (aktor) baik
individu maupun perusahaan di dalam struktur tersebut ( withinthestructure). Dari perspektif ini, sama halnya dengan modal
lainnya, modal sosial juga bersifat produktif, yakni membuat pencapaian
tujuan tertentu yang tidak mungkin diraih bila keberadaannya tidak eksis.
Coleman menyebut setidaknya terdapat tiga bentuk dari modal sosial.
Pertama, struktur kewajiban (obligations), ekspektasi, dan
kepercayaan. Dalam konteks ini, bentuk modal sosial tergantung dari dua
elemen kunci: kepercayaan dari lingkungan sosial dan perluasan aktual dari
kewajiban yang sudah dipenuhi (obligationheld). Dari perspektif
ini, individu yang bermukim dalam struktur sosial dengan saling kepercayaan
tinggi memiliki modal sosial yang lebih baik daripada situasi sebaliknya.
Kedua, jaringan informasi (informationchannels). Informasi
sangatlah penting sebagai basis tindakan. Tetapi harus disadari bahwa
informasi itu mahal, tidak gratis. Pada level yang paling minimum, di mana
ini perlu mendapatkan perhatian, informasi selalu terbatas. Tentu saja,
individu yang memiliki jaringan lebih luas akan lebih mudah (dan murah)
untuk memperoleh informasi, sehingga bisa dikatakan modal sosialnya tinggi;
demikian pula sebaliknya.
Ketiga, norma dan sanksi yang efektif (normsandeffectivesanctions
). Norma dalam sebuah komunitas yang mendukung individu untuk memperoleh
prestasi (achievement) tentu saja bisa digolongkan sebagai bentuk
modal sosial yang sangat penting. Contoh lainnya, norma yang berlaku secara
kuat dan efektif dalam sebuah komunitas yang bisa memengaruhi orang-orang
muda, mempunyai potensi untuk mendidik generasi muda tersebut memanfaatkan
waktu sebaik-baiknya (having a goodtime).
Jadi, Ilmu ekonomi kelembagaan generasi kedua sebagai teori besar ekonomi
dengan tokoh utamanya Dauglas North nampak lebih dekat pada teori ekonomi
Neoklasik ketimbang ekonomi kelembagaan generasi pertama (Veblendkk),
terutama dalam teori pilihan rasional (rationalchoice).
Dalam kaitan krisis ekonomi Indonesia dengan peranan besar dari pengusaha
konglomerat, yang bekerja sama secara kolusif dengan pejabat-pejabat
Negara, teori ekonomi kelembagaan mampu menjelaskan berfungsinya apa yang
disebut Negara pemangsa (predatorystate) yang perlu dilawan dan ditundukkan
dengan lembaga-lembaga buatan masyarakat sendiri yaitu masyarakat madani
(civilsociety). Akhirnya yang baru dari teori kelembagaan adalah
kemungkinan adanya keseimbangan ganda (multipleequilibria) sebagai lawan
dari teori keseimbangan umum (general equilibriumtheory).
7.
Ekonomi Kelembagaan bagi Indonesia
Ekonomi kelembagaan mempelajari dan berusaha memahami peranan kelembagaan
dalam sistem dan organisasi ekonomi atau sistem terkait, yang lebih luas.
Kelembagaan yang dipelajari biasanya bertumbuh spontan seiring dengan
perjalanan waktu atau kelembagaan yang sengaja dibuat oleh manusia. Peranan
kelembagaan bersifat penting dan strategis karena ternyata ada dan
berfungsi di segala bidang kehidupan. Dengan demikian, ilmu ekonomi
kelembagaan kemudian menjadi bagian dari ilmu ekonomi yang cukup penting
peranannya dalam perkembangan ilmu pengetahuan sosial humaniora, ekonomi,
budaya dan terutama ekonomi politik. Ilmu ekonomi kelembagaan terus
berkembang semakin dalam karena ditekuni oleh banyak ahli ilmu ekonomi dan
ilmu sosial lainnya, termasuk beberapa diantaranya memenangkan hadiah
nobel. Penghargaan tersebut tidak hanya tertuju langsung kepada ahli dan
orangnya, tetapi juga pada bidang keilmuannya, yakni ilmu ekonomi
kelembagaan (Rachbini, 2002).
Para penganut ekonomi kelembagaan percaya bahwa pendekatan multidisipliner
sangat penting untuk memotret masalah-masalah ekonomi, seperti aspek
sosial, hukum, politik, budaya, dan yang lain sebagai satu kesatuan
analisis (Yustika, 2008: 55). Oleh karena itu, untuk mendekati gejala
ekonomi maka, pendekatan ekonomi kelembagaan menggunakan metode kualitatif
yang dibangun dari tiga premis penting yaitu: partikular, subyektif dan,
nonprediktif.
Cabang ilmu ekonomi kelembagaan di Amerika Serikat lahir dan berkembang
bersamaan dengan kondisi kacau yaitu terjadinya perubahan-perubahan besar
dalam perekonomian menjelang akhir abad 19.
1. Pertumbuhan perusahaan-perusahaan besar.
2. Tekanan atas harga hasil-hasil pertanian.
3. Tumbuhnya serikat-serikat buruh dan tekanan terhadapnya.
4. Krisis keuangan yang silih berganti.
5. Masalah migrasi, urbanisasi dan korupsi dalam pemerintahan.
Titik balik yang amat penting dari ajaran ekonomi baru adalah keterlibatan
langsung pemerintah dalam perekonomian, pemerintah harus memihak pada
golongan ekonomi lemah yang dikenal dengan ekonomi rakyat.
Tekad ini kemudian melalui reformasi diatur dalam TAP MPR RI No. XVI/1998
dengan konsideran antara lain sebagai berikut:
1. bahwa pelaksanaan amanat Demokrasi Ekonomi sebagaimana dimaksud dalam
pasal 33 UUD 1945 belum terwujud.
2. Bahwa sejalan dengan perkembangan kebutuhan dan tantangan Pembangunan
Nasional, diperlukan keberpihakan politik ekonomi yang lebih memberikan
kesempatan, dukungan dan pengembangan ekonomi rakyat yang mencakup
koperasi, usaha kecil dan menengah sebagai pilar utama pembangunan ekonomi
nasional.
BAB III
PENUTUP
Kesimpulan
Ekonomi kerakyatan yaitu kegiatan dari ekonomi yang dapat memberikan
kesempatan yang luas untuk masyarakat dalam berpartisipasi sehingga
perekonomian dapat terlaksana dan berkembang secara baik.
Ekonomi kerakyatan ini dikembangkan berdasarkan pengetahuan dan
keterampilan masyarakat lokal dalam mengelola lingkungan dan tanah mereka
secara turun-temurun. Aktivitas ekonomi kerakyatan ini terkait dengan
ekonomi subsistem antara lain pertanian tradisional seperti perburuan,
perkebunan, mencari ikan, dan lainnya kegiatan disekitar lingkungan alamnya
serta kerajinan tangan dan industri rumahan. Kesemua kegiatan ekonomi
tersebut dilakukan dengan pasar tradisional dan berbasis masyarakat,
artinya hanya ditujukan untuk menghidupi dan memenuhi kebutuhan hidup
masyarakatnya sendiri. Kegiatan ekonomi dikembangkan untuk membantu dirinya
sendiri dan masyarakatnya, sehingga tidak mengeploitasi sumber daya alam
yang ada.
Sistem ekonomi yang berjiwa kerakyatan tidak lahir dalam reformasi ekonomi
akhir-akhir ini, tetapi sudah sejak gerakan kemerdekaan dan kebangkitan
nasional 1908 dan 1928.
Sistem ekonomi kerakyatan yang dikembangkan melalui proklamasi kemerdekaan
17 Agustus 1945 adalah untuk melepaskan rakyat dari belenggu kapitalisme
global abad 19 dan 20. Perlawanan terhadap globalisasi dan liberalisasi
akhir abad 20 dan awal 21 yang kembali mengancam kehidupan ekonomi rakyat
hanya dapat dilakukan melalui penguatan sistem ekonomi (aturan main) yang
berjiwa kerakyatan.
2.
Saran
Semoga bermanfaat bagi pemakalah dan pembaca, dan dalam pembuatan makalah
ini mungkin kami banyak kekurangan dan kesalahan, maka dari itu penulis
bersedia menerima saran dari dosen ataupun pembaca demi perbaikan makalah
selanjutnya
DAFTAR PUSTAKA
Mubyarto, 1961, Sistem Dan Moral Ekonomi Indonesia, LP3ES Jakarta.
--------, 1997, Ekonomi Pancasila :Landasan Pemikiran Mubyarto,
Aditya Media, Jakarta.Haryono
--------, 1999,
Reformasi Sistem Ekonomi : Dari Kapitalisme Menuju Ekonomi Kerakyatan
, Aditya Media, Jakarta.
--------, 2000, Membangun Sistem Ekonomi, BPFE, Yogyakarta.
Tag artikel Makalah Ekonomi kerakyatan
-
makalah ekonomi kerakyatan pdf
-
makalah ekonomi kerakyatan dalam era globalisasi
-
latar belakang ekonomi kerakyatan
-
makalah pemberdayaan ekonomi kerakyatan
-
makalah kewirausahaan dan ekonomi kerakyatan
-
contoh perekonomian kerakyatan
-
definisi ekonomi kerakyatan
-
tujuan ekonomi kerakyatan